Tuesday, February 4, 2014

Menggapai Puncak Sejati Gunung Raung Via Kalibaru

Ketenangan jiwa seakan terpecah saat kemenangan puncak bulan Ramadhan tiba. Kembali berpetualang ke alam bebas untuk lebih jauh mengenali bumi Indonesia. Berawal dari ketidak sengajaan yang menjadikan ambisi untuk menjejakkan kaki ini di Puncak Sejati, Gunung Raung, Banyuwangi, Jawa Timur. Niat membeli jaket pun sirna...ah,yasudahlah. Setelah bang Ikun, salah satu anggota mapala Malmira dari Unsoed menawarkan untuk bergabung dalam ekspedisinya menuju puncak sejati Gunung Raung. Siapa yang tidak tertarik dalam ekspedisi menyenangkan seperti ini?
 Beranggotakan 7 orang, kami berangkat secara terpisah dan kota Surabaya menjadi tempat perjumpaan kami. Kereta api Sri Tanjung tujuan Banyuwangi bisa menjadi alternatif perjalanan menuju Banyuwangi. Berhubung musim lebaran, bus menjadi pengantar setia ku dari Yogyakarta menuju Surabaya dengan tarif sebesar 54rb (harga naik karena musim lebaran). Di Surabaya aku bertemu dengan rekan dari Mapala Unsoed, perjalanan kami lanjutkan dengan kereta tujuan Banyuwangi (tarif: 90rb). Perjalanan panjang selama 6 jam mengantarkan kami hingga Stasiun Kalibaru, Banyuwangi. Meskipun larut malam, jemputan dari mapala Adios siap mengantar kami menuju tempat singgah sementara. Tidak ada basecame resmi untuk pendakian Gunung Raung via Kali Baru, karena keamanan belum terjamin dan pendakian lewat jalur ini belum dibuka untuk umum. Jalur pendakian Raung sendiri baru dirintis pada tahun 2002 oleh Pak Sunarya dan rekan-rekan dari PANTAGA (Persatuan Pendaki Surabaya) dibantu oleh mapala Adios, dan jalur pendakian ini baru mendapat ijin 2 tahun kemudian. 
Base came anak mapala Adios dapat ditempuh 10 menit dari stasiun Kalibaru. Malam itu kami memanfaatkan waktu untuk mempersiapkan bekal yang besok akan kami bawa diselingi pembicaraan rintan tentang medan pendakian yang akan kami tempuh dilanjutkan beristirahat sembari menunggu datangnya pagi. Dari obrolan malam itu, saya mendapatkan banyak manfaat untuk mematangkan menejemen perjalanan pendakian. Keesokan harinya kamipun bersiap untuk melakukan pendakian. Perlengkapan siap, mobil colt bak telah bersedia mengantarkan kami berangkat menuju desa Wonokromo yang merupakan desa terakhir di kaki gunung Raung.

Hari pertama, kami berangkat jam 08.00. Perjalanan menuju Desa Wonokromo memakan waktu sekitar 1,5 jam. Sepanjang perjalanan hamparan pohon gandum dan perkebunan cokelat menimbulkan decak kagum bagi kami, begitu suburnya tanah Indonesia ini. Namun jalan menuju desa ini kurang terawat dan aksesibilitas yang sulit, menjadikan kendaraan kami tidak dapat mengantarkan kami lebih jauh lagi, hanya kendaraan roda dua yang dapat melewati jalan tersebut. Jika anda berminat ada ojek yang dapat mengantarkan pendaki hingga pos 1. Namun setelah turun dari colt bak kami menikmati perjalanan menuju pos 1 dengan waktu tempuh 1,5 jam. Jalan menuju pos 1 merupakan jalur petani kopi, ditandai oleh adanya percabangan jalan. Di Pos 1 terdapat sumber mata air dan dijadikan tempat untuk mengisi air oleh para pendaki yang ingin menuju ke Puncak Raung. Karena sumber air ini merupakan sumber mata air terakhir yang dapat ditemui. Biasanya pendaki dari bawah membawa air mineral 4,5 liter dan membawa jerigen kosong kapasitas 2,5 liter untuk diisi di pos ini.
Untuk mengambil air ada tiga percabangan jalan, ambil jalur yang ke kiri menurun menuju sungai, perjalanan sekitar 10 menit. Persediaan air di sungai ini tetap melimpah meskipun di musim kemarau. Airnya jernih, bersih dan segar. Isi air secukupnya sesuai dengan kebutuhan.
Pendakian Gunung Raung via Kalibaru informasi pada peta menunjukkan terdapat 4 POS dan 9 Came.Namun lebih mudahnya kami menggunakan patokan Came. Waktu menunjukan jam 11.37 perjalanan dilanjutkan menuju came 2, came 1 terletak sebelum Pos 1. Setelah melewati kebun kopi jalur selanjutnya melewati kawasan hutan campuran. Jam 12.10 kami memutuskan beristirahat sejenak sembari makan dan menunaikan ibadah.
Pukul 12.45 perjalanan kami lanjutkan dan kali ini vegetasi hutan semakin rapat. Terlihat jalur pendakian yang jarang dilewati oleh pendaki, maklum saja Gunung Raung adalah salah satu gunung yang tidak begitu banyak didaki mengingat kondisi medan yang cukup sulit. Jalur menuju came 2 cukup menantang karena banyak pohon berukuran besar yang tumbang dan untuk melewatinya kami harus merayap. Tiba di came 2 pukul 15.15. Came 2 cukup luas dan terlindung oleh vegetasi yang cukup rapat. Dapat digunakan untuk mendirikan 3 dom kapasitas 6 orang, di camp inilah rombongan kami menyimpan pasokan air.
Pendakian menuju puncak Raung memang dikategorikan berat ada yang mengatakan ekstrim. Teknik yang dibutuhkan salah satunya dengan menimbun air atau membuat tandon air. Manajemen perjalanan terutama air sangat diperlukan, setiap pos atau came alangkah baiknya menghitung kembali persediaan air. Perjalanan kami lanjutkan, pukul 15.40 dari camp 2 medan yang dilalui masih sama, trek mulai menanjak dan hawa dingin mulai terasa. Setelah berjalan cukup lama sampailah pada came 3. Waktu menunjukan pukul 17.25 kami langsung membongkar carier untuk mendirikan dome untuk bermalam. Came 3 merupakan dataran cukup luas dan dapat digunakan untuk mendirikan 3 dome. Perlu diketahui dalam melakukan pendakian sebaiknya istirahat pada came 2 atau came 3. Jangan memaksakan perjalanan pada malam hari untuk menjaga kondisi fisik dan juga hal-hal yang tidak diinginkan pada malam hari.

Hari Kedua Mentari pagi telah tiba. Setelah sarapan, pukul 07.40 kami melanjutkan perjalanan menuju came 4. Medan yang kami lalui lebih sulit, karena terdapat semak berduri dan tak jarang kami menjumpai pohon rotan yang menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Setelah melewati beberapa bukit came 4 mulai terlihat.
Waktu menunjukkan pukul 09.10 kami melanjutkan perjalanan menuju came 5, medan yang dilalui lebih berat karena banyak trek menanjak dan sesekali melewati pohon tumbang yang mengharuskan kami merayap. Pada perjalanan pos 4 menuju pos 5 kami menemukan tanaman Begusia yang banyak mengandung air pada bagian batangnya. Meskipun rasanya sangat asam tetapi cukup menyegarkan. Pukul 10.25 kami tiba di came 5. Dari camp 4 ke camp 5 membutuhkan waktu 1 jam. Camp 5 ditandai dengan adanya dataran sempit yang dapat digunakan untuk mendirikan 1 dome. Perlu berpikir ulang untuk mendirikan dome di tempat ini, karena akan menjadi jalur air saat hujan turun.
Hutan bervegetasi lebat menunjukan masih asrinya Gunung Raung dan jarang didaki oleh para penikmat alam. Trek menuju came 6 semakin menanjak kami menjumpai tanjakan panjang yakni tanjakan Babi. Came 6 tak kunjung terlihat namun kami tertarik karena disini banyak dijumpai pohon pinus yang sangat besar dan kami sempatkan untuk berpoto. Waktu tempuh menuju came 6 cukup lama karena banyak trek yang menanjak, akhirnya kami sampai di came 6 pukul 11.10. Came 6 cukup luas, dapat didirikan 3 dome kapasitas 3-4 orang.
Perjalanan sampai di came 7 pada pukul 13.35 disambut oleh gemuruh angin dan hawa dingin. Energi yang semakin melemah melambatkan perjalanan, kami memasak terlebih dahulu untuk mengisi tenaga. Dengan semangat, kami melanjutkan perjalanan menuju came 8. Medan terus menanjak dan semakin terbuka. Gemuruh suara kawah Raung semakin terdengar jelas. Bunga edelweiss mulai kami temukan. Pukul 16.10 kami sampai di came 8, Came 8 memiliki tempat yang cukup luas dan terlindung dari vegetasi yang unik. Dapat didirikan 2 dome kapasitas 5 orang.
Perjalanan dilanjutkan menuju came 9 pada pukul 17.10. Langkah kaki yang semakin berat ditambah menipisnya oksigen mengharuskan kami untuk terus menjaga semangat. Satu jam berselang sampailah kami di came 9, dan mulai bongkar carier, membuat dome dan istirahat sebelum summit attack esok pagi. Came 9 dapat digunakan untuk mendirikan 4 dome kapasitas 4 orang. Terlindung oleh vegetasi dan merupakan pos terakhir sebelum menuju puncak sejati gunung raung.
Hari ketiga pukul 06.00 kami bangun dan menyiapkan menu sarapan. Selesai sarapan kami menyiapkan peralatan yang akan kami bawa antara lain tali carmantel, carabiner, jumar, perusik, webbing, dan seat hernest. Alat tersebut wajib dibawa untuk melakukan pendakian ke Puncak Raung demi keamanan dan keselamatan. Pukul 08.00 perjalanan dimulai. Kurang lebih 10 menit kami sampai di puncak Bendera, puncak ini ditandai dengan tongkat yang dapat digunakan untuk mengikat bendera. Setelah di puncak bendera tantangan mulai menghadang. Kami harus melewati igir jurang yang sangat dalam dan biasanya disebut Jembatan Siratul Mustakim. Setelah itu kami harus memasang alat untuk menuju puncak 17. Pemasangan alat yang pertama dengan mlipir tebing dan memanjat tebing kurang lebih 3 meter setelah itu hanya dengan teknik ascending. Pemasangan alat yang kedua yaitu untuk mencapai puncak 17 dengan leader yang harus melipir jurang lewat sebelah kanan dan langsung memanjat puncak 17. Untuk anggota lain hanya tinggal melakukan teknik ascending. Setelah sampai di puncak 17 harus menuruni tebing dengan tali carmantel. Kurang lebih 30 meter ke bawah dengan teknik repling. Setelah turun kebawah harus melewati jembatan Siratul Mustakim yang ke dua kurang lebih 40 meter panjangnya. Setelah melewati jalur ini harus menuruni tebing kurang lebih 8 meter bisa menggunakan tali webbing untuk dipasang Angkor. Webbing ini berguna untuk pegangan saat turun dan saat naik nanti ketika pulang. Setelah turun, perjalan dilanjutkan dengan traking yang menanjak dominan batuan dan pada saat akan mencapai puncak tusuk gigi ada border yang cukup tinggi untuk dipanjat. Disarankan menggunakan jalur paling timur ada jalur yang lebih mudah dibandingkan dari sisi sebelah barat. Kurang lebih 45 menit sampailah kami dipuncak tertinggi Gunung Raung 3.344 mdpl puncak sejati.
Saran dari pegalaman saya :
  1. Gunakan baju lengan panjang dan celana panjang karena banyak pohon berduri di sepanjang perjalanan, dianjurkan untuk memakai sepatu yang standar untuk pendakian.
  2. Setiap pendaki dianjurkan untuk membawa air minimal 7 liter, mata air terakhir berada pada pos.
  3. Untuk menyingkat waktu pendakian dari stasiun menuju pos 1 dapat ditempuh dengan menggunakan ojek.
  4. Pilih perjalanan pada matahari terbit atau pada siang hari, biasanya para pendaki hari pertama mendirikan dome pada came 2 dan came 3, kemudian hari kedua di came 6 atau langsung di came 9.
  5. Bawalah peralatan climbing minimal tali carmantel 40 meter atau 20 meter dan 20 meter, tali perusik, carabiner, jumar, seat hearnest dan webbing.
  6. Dalam melakukan summit attack dianjurkan berangkat pagi dari pos 4 atau came 9 sampai puncak sejati kurang lebih memakan waktu 4 jam karena harus memasang alat.
  7. Dalam perjalanan turun untuk mempersingkat waktu pendakian setelah melakukan summit attack bisa langsung turun dan ngecame di came 6. Dengan teknik ini kami bisa melakukan pendakian 4 hari 3 malam.
  8. Pendakian Raung dibutuhkan menejemen perjalanan yang benar-benar matang apabila ingin menggapai puncak sejati. (Oleh: Surya Waradi).

Wednesday, January 29, 2014

Lawu 3.265 (Kampanye Go Green, Penyebaran Benih Tanaman dan Bersih Gunung)


Agenda pendakian massal yang setiap tahun diadakan oleh Mpa Mahameru kali ini akhirnya berangkat dengan 61 orang peserta. Dua truk yang kami pilih untuk menjadi alat transportasi menuju ke Lawu mengantar kami dengan setia. Berangkat dari Jogja, Sabtu, 19 Oktober 2013 pukul 09.00. Cuaca yang mengiringi kami selama perjalanan benar-benar luar biasa panas. Perjalanan selama 4 jam yang cukup membuat kami semua butuh pasokan air minum yang cukup banyak. Truk berhenti dua kali selama perlananan menuju ke Gunung Lawu alhasil karena panas yang terik, tujuan utama berhenti adalah...membeli minuman (hal yang perlu diperhatikan saat mendaki atau pergi kemanapun sediakan air minum yang mudah untuk diambil).

Perjalanan Menuju Gunung Lawu
Perjalanan 4 jam menuju ke Gunung Lawu berjalan dengan lancar. Senang rasanya karena salah satu dari teman mengabarkan akan datang, mas Rohmad (sesepuh mahameru) bersama temannya. Pukul 13.00 sampailah kami di Base Camp pendakian gunung Lawu. Ku kira basecampnya luas dan dapat digunakan untuk menampung 61 peserta, ternyata...jauh dari perkiraan. Ya sudahlah...akhirnya kami berkumpul ke tanah lapang di belakang tugu masuk (Jalur Lawu Via Cemoro Sewu). Peserta dibagi menjadi 4 kelompok.
Jalur pertama merupakan jalan yang kemiringannya belum terlalu curam, dengan tatanan batu dan kanan kiri berupa vegetasi hutan cemara. Terlihat dari beberapa titik di tempat tersebut sering digunakan untuk berkemah. Setelah melewati hutan cemara akan sampai di ladang dan perkebunan penduduk. Di sana sini terdapat bunga, saya menyebutnya itu bunga wortel. Entah benar apa tidak. Jalanan kemudian mulai menanjak, dan sesaat kemudian kami bertemu bangunan kecil beratap asbes. Nah,ada petunjuknya juga, sampailah kami di Sendang Panguripan. Setelah Sendang Panguripan ini kami mulai menyebarkan bibit Lamtoro (Leucaena glauca ). Sesaat kemudian kami bertemu dengan pendaki asal Jakarta, dan mereka menyarankan untuk mengisi ulang air karena di atas, sumber mata air sudah tak ada lagi. Kebetulan saat itu musim kemarau dan belum pernah turun hujan.
Doa bersama sebelum melakukan pendakian
Botol kosong kami telah terisi air, dan saatnya melanjutkan perjalanan. Vegetasi mulai rapat. Jalan mulai menanjak. Masih dengan jalan berbatu yang cukup menyiksa dengkul. 15 menit berselang sampailah kami di Pos 1, istirahat sejenak sambil menyapa ada seorang bapak dan seorang ibu yang berada di Pos tersebut. Kami berhenti sebentar, sambil melihat medan di depan mata semakin menanjak. Selesai istirahat, kami melanjutkan perjalanan. Namun cuaca petang itu kurang bersahabat, awalnya gerimis, lama-lama hujan deras pun datang. Niat awal ingin melanjutkan perjalanan, namun ada salah satu angggota yang tidak membawa jas hujan. Karena tidak ada yang tahu, pos 2 jauh apa dekat akhirnya kami memutuskan kembali ke Pos 1. Lumayan.....baru sekali ini naik gunung kehujanan deras. Sampai di Pos 1, ternyata kami bertemu rombongan kelompok 3. Untungnya mereka tidak kehujanan. Kelompok kami, yang sudah basah kuyup kehujanan akhirnya ganti pakaian dan menghangatkan badan dengan arang yang kami bawa. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya hipotermia. Setelah hujan cukup reda kelompok 4 menyusul, anggota kelompok mereka basah kuyup.
Ternyata benar keputusan yang kami ambil, jarak dari Pos 1 ke pos 2 lumayan jauh. Menjelang petang kami sampai di pos 2. Sesampai di Pos 2 ternyata kelompok 1 ada di sana, berteduh. Saat itu pos 2 benar-benar penuh sesak. Banyak pendaki lain juga berteduh. Pos 2 terletak di bawah tebing batu, terdapat bangunan permanen, lengkap dengan atap seng. Terdapat tanah terbuka yang dapat digunakan untuk mendirikan 4 tenda ukuran kecil (5 tenda cukup asal nyempil-nyempil :D). Dengan berbagai pertimbangan akhirnya ada beberapa teman yang nge-camp di Pos 1, di Pos 2 dan ada yang melanjutkan perjalanan dan nge-camp di Pos 3.
Pukul 22.15 udara terasa semakin dingin. Rupanya cuaca sudah mulai cerah. Bulan kembali menyinarkan terangnya. Beberapa teman yang nge-camp di Pos 2 bersiap-siap naik, disusul oleh beberapa teman yang nge-camp di Pos 1. Hari menjelang pagi, cuaca pagi di Lawu saat itu cukup cerah. Pos 2 ke pos 3 jaraknya tidak terlalu jauh. Di pos 3 terdapat gardu permanen, dengan seng yang sudah tidak lagi teratur karena kencangnya terpaan angin. Di pos 3, vegetasi tidak terlalu rapat, jadi wajar kalau anginnya mampu memindahkan atap seng dari tempatnya. Pos 3 ke pos selanjutnya ternyata masih jauh. Tapi medannya cukup mudah dilalui, karena disediakan fasilitas berupa tatanan batu dan ada beberapa bagian yang sudah dilengkapi besi pegangan. Dari Pos 3 tidak lama kemudian sampai di Pos Watu Putih. Watu Putih adalah tanah datar yang tidak terlalu luas dan tanahnya berupa tanah putih. Dari sini Telaga Sarangan sudah mulai terlihat (pada siang hari dan cuaca cerah) dan vegetasi edelweiss serta cantigi sudah dapat kita kita temukan.
Di seberang Watu Putih terdapat Pos 4, dataran yang tidak terlalu luas dan hanya muat 1 tenda kecil kapasitas 3-4 orang. Dari pos 4 ke pos 5 dapat ditempuh kurang lebih 20-30 menit. Pos 5 merupakan tanah lapang yang cukup luas. Banyak pendaki yang menggunakan tempat ini untuk mendirikan tenda sebelum ke puncak. Karena rombongan kami sudah mendirikan tenda di Pos 1, 2 dan 3, maka di Pos 5 kami hanya mampir istirahat dan kembali melajutkan perjalanan. Sebelum pos 5 terdapat sumber air yang bernama sumur Jolotundo. Selain Sumur Jolotundo, para pendaki juga mengambil air dari Sendang Drajat. Karena rombongan kami terpecah menjadi beberapa kelompok, maka saat sampai puncak setinggi 3265 Mdpal juga tidak dapat bersamaan, begitu pula dengan waktu turunnya.
Hargo Dumilah, Puncak Lawu, 3.265 Mdpal
Tidak semua peserta sampai puncak, maka pukul 08.00 rombongan kami sudah mulai turun dari puncak. Di bawah kami harus packing dan harus sampai basecamp pendakian pukul 15.00. Sekitar pukul 10.00 kami kembali ke Pos 3, pukul 11.30 sampai pos 2 dan pukul 13.00 sampai pos 1. Setelah sampai ladang penduduk, salah satu peserta ada yang cedera karena kakinya keseleo. Namun akhirnya peserta yang cedera berhasil turun dengan selamat.

Kami sampai di Basecamp pendakian pukul 16.00 molor satu jam dari target waktu yang ditentukan. Namanya juga kegiatan alam, terkadang waktunya tidak dapat diprediksikan. Apalagi dengan jumlah peserta pendakian yang cukup banyak. Akhirnya setelah berkumpul semua, kami naik truk dan bersiap kembali ke Jogja. Sampailah kami di Jogja pukul 19.30..perjalanan yang luar biasa, salam lestari :) 
Hasil membersihkan sampah sepanjang perjalanan turun