Wednesday, January 29, 2014

Lawu 3.265 (Kampanye Go Green, Penyebaran Benih Tanaman dan Bersih Gunung)


Agenda pendakian massal yang setiap tahun diadakan oleh Mpa Mahameru kali ini akhirnya berangkat dengan 61 orang peserta. Dua truk yang kami pilih untuk menjadi alat transportasi menuju ke Lawu mengantar kami dengan setia. Berangkat dari Jogja, Sabtu, 19 Oktober 2013 pukul 09.00. Cuaca yang mengiringi kami selama perjalanan benar-benar luar biasa panas. Perjalanan selama 4 jam yang cukup membuat kami semua butuh pasokan air minum yang cukup banyak. Truk berhenti dua kali selama perlananan menuju ke Gunung Lawu alhasil karena panas yang terik, tujuan utama berhenti adalah...membeli minuman (hal yang perlu diperhatikan saat mendaki atau pergi kemanapun sediakan air minum yang mudah untuk diambil).

Perjalanan Menuju Gunung Lawu
Perjalanan 4 jam menuju ke Gunung Lawu berjalan dengan lancar. Senang rasanya karena salah satu dari teman mengabarkan akan datang, mas Rohmad (sesepuh mahameru) bersama temannya. Pukul 13.00 sampailah kami di Base Camp pendakian gunung Lawu. Ku kira basecampnya luas dan dapat digunakan untuk menampung 61 peserta, ternyata...jauh dari perkiraan. Ya sudahlah...akhirnya kami berkumpul ke tanah lapang di belakang tugu masuk (Jalur Lawu Via Cemoro Sewu). Peserta dibagi menjadi 4 kelompok.
Jalur pertama merupakan jalan yang kemiringannya belum terlalu curam, dengan tatanan batu dan kanan kiri berupa vegetasi hutan cemara. Terlihat dari beberapa titik di tempat tersebut sering digunakan untuk berkemah. Setelah melewati hutan cemara akan sampai di ladang dan perkebunan penduduk. Di sana sini terdapat bunga, saya menyebutnya itu bunga wortel. Entah benar apa tidak. Jalanan kemudian mulai menanjak, dan sesaat kemudian kami bertemu bangunan kecil beratap asbes. Nah,ada petunjuknya juga, sampailah kami di Sendang Panguripan. Setelah Sendang Panguripan ini kami mulai menyebarkan bibit Lamtoro (Leucaena glauca ). Sesaat kemudian kami bertemu dengan pendaki asal Jakarta, dan mereka menyarankan untuk mengisi ulang air karena di atas, sumber mata air sudah tak ada lagi. Kebetulan saat itu musim kemarau dan belum pernah turun hujan.
Doa bersama sebelum melakukan pendakian
Botol kosong kami telah terisi air, dan saatnya melanjutkan perjalanan. Vegetasi mulai rapat. Jalan mulai menanjak. Masih dengan jalan berbatu yang cukup menyiksa dengkul. 15 menit berselang sampailah kami di Pos 1, istirahat sejenak sambil menyapa ada seorang bapak dan seorang ibu yang berada di Pos tersebut. Kami berhenti sebentar, sambil melihat medan di depan mata semakin menanjak. Selesai istirahat, kami melanjutkan perjalanan. Namun cuaca petang itu kurang bersahabat, awalnya gerimis, lama-lama hujan deras pun datang. Niat awal ingin melanjutkan perjalanan, namun ada salah satu angggota yang tidak membawa jas hujan. Karena tidak ada yang tahu, pos 2 jauh apa dekat akhirnya kami memutuskan kembali ke Pos 1. Lumayan.....baru sekali ini naik gunung kehujanan deras. Sampai di Pos 1, ternyata kami bertemu rombongan kelompok 3. Untungnya mereka tidak kehujanan. Kelompok kami, yang sudah basah kuyup kehujanan akhirnya ganti pakaian dan menghangatkan badan dengan arang yang kami bawa. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya hipotermia. Setelah hujan cukup reda kelompok 4 menyusul, anggota kelompok mereka basah kuyup.
Ternyata benar keputusan yang kami ambil, jarak dari Pos 1 ke pos 2 lumayan jauh. Menjelang petang kami sampai di pos 2. Sesampai di Pos 2 ternyata kelompok 1 ada di sana, berteduh. Saat itu pos 2 benar-benar penuh sesak. Banyak pendaki lain juga berteduh. Pos 2 terletak di bawah tebing batu, terdapat bangunan permanen, lengkap dengan atap seng. Terdapat tanah terbuka yang dapat digunakan untuk mendirikan 4 tenda ukuran kecil (5 tenda cukup asal nyempil-nyempil :D). Dengan berbagai pertimbangan akhirnya ada beberapa teman yang nge-camp di Pos 1, di Pos 2 dan ada yang melanjutkan perjalanan dan nge-camp di Pos 3.
Pukul 22.15 udara terasa semakin dingin. Rupanya cuaca sudah mulai cerah. Bulan kembali menyinarkan terangnya. Beberapa teman yang nge-camp di Pos 2 bersiap-siap naik, disusul oleh beberapa teman yang nge-camp di Pos 1. Hari menjelang pagi, cuaca pagi di Lawu saat itu cukup cerah. Pos 2 ke pos 3 jaraknya tidak terlalu jauh. Di pos 3 terdapat gardu permanen, dengan seng yang sudah tidak lagi teratur karena kencangnya terpaan angin. Di pos 3, vegetasi tidak terlalu rapat, jadi wajar kalau anginnya mampu memindahkan atap seng dari tempatnya. Pos 3 ke pos selanjutnya ternyata masih jauh. Tapi medannya cukup mudah dilalui, karena disediakan fasilitas berupa tatanan batu dan ada beberapa bagian yang sudah dilengkapi besi pegangan. Dari Pos 3 tidak lama kemudian sampai di Pos Watu Putih. Watu Putih adalah tanah datar yang tidak terlalu luas dan tanahnya berupa tanah putih. Dari sini Telaga Sarangan sudah mulai terlihat (pada siang hari dan cuaca cerah) dan vegetasi edelweiss serta cantigi sudah dapat kita kita temukan.
Di seberang Watu Putih terdapat Pos 4, dataran yang tidak terlalu luas dan hanya muat 1 tenda kecil kapasitas 3-4 orang. Dari pos 4 ke pos 5 dapat ditempuh kurang lebih 20-30 menit. Pos 5 merupakan tanah lapang yang cukup luas. Banyak pendaki yang menggunakan tempat ini untuk mendirikan tenda sebelum ke puncak. Karena rombongan kami sudah mendirikan tenda di Pos 1, 2 dan 3, maka di Pos 5 kami hanya mampir istirahat dan kembali melajutkan perjalanan. Sebelum pos 5 terdapat sumber air yang bernama sumur Jolotundo. Selain Sumur Jolotundo, para pendaki juga mengambil air dari Sendang Drajat. Karena rombongan kami terpecah menjadi beberapa kelompok, maka saat sampai puncak setinggi 3265 Mdpal juga tidak dapat bersamaan, begitu pula dengan waktu turunnya.
Hargo Dumilah, Puncak Lawu, 3.265 Mdpal
Tidak semua peserta sampai puncak, maka pukul 08.00 rombongan kami sudah mulai turun dari puncak. Di bawah kami harus packing dan harus sampai basecamp pendakian pukul 15.00. Sekitar pukul 10.00 kami kembali ke Pos 3, pukul 11.30 sampai pos 2 dan pukul 13.00 sampai pos 1. Setelah sampai ladang penduduk, salah satu peserta ada yang cedera karena kakinya keseleo. Namun akhirnya peserta yang cedera berhasil turun dengan selamat.

Kami sampai di Basecamp pendakian pukul 16.00 molor satu jam dari target waktu yang ditentukan. Namanya juga kegiatan alam, terkadang waktunya tidak dapat diprediksikan. Apalagi dengan jumlah peserta pendakian yang cukup banyak. Akhirnya setelah berkumpul semua, kami naik truk dan bersiap kembali ke Jogja. Sampailah kami di Jogja pukul 19.30..perjalanan yang luar biasa, salam lestari :) 
Hasil membersihkan sampah sepanjang perjalanan turun











Thursday, June 6, 2013

Galeri Foto TIM Ekspedisi Kali Progo




















EKSPEDISI KALI PROGO


Latar Belakang Masalah: 
DAS progo termasuk DAS besar yang ada di pulau jawa yang bermuara dipesisir laut selatan. Luas DAS Progo 237.741 h dan panjang aliran sungai 140 km.Hulu dari DAS Progo berasal dari berbagai gunung diantaranya Merapi, Sindoro, Sumbing, Merbabu dan lainya. Dari berbagai gunung di atas ada gunung yang masih aktif dan sudah tidak aktif, gunung-gunung tersebut berdampak terhadap elemen lingkungan das progo yaitu fisik, sosial dan biotik. Dari gunung yang masih aktif dampak yang paling mempengaruhi adalah terjadinya erupsi yang menyebabkan deposisi lahar hujan. Sungai progo merupakan sungai utama dari DAS Progo, sebagai sungai utama. Sungai progo sangat bermanfaat terhadap manusia dan linkungan. Dengan adanya lahar hujan akibat dari letusan gunung merapi pada tahun 2010 berpengaruh besar terhadap terjadi sedimentasi yang ada di lembah sungai progo. Karena dampak sedimentasi masih terasa sampai saat ini maka dilakukan ekplorasi guna mengidentifikasi akibat yang ditimbulkan dari deposisi lahar hujan dari gunung merapi terhadap lingkungan di lembah sungai progo.

Metode: 1. Observasi langsung
              2. Wawancara

Analisis: Deskriptif Memperhatikan Aspek Keruangan Pembahasan: 
Berdasarkan hasil dari pengamatan lembah sungai progo telah terjadi diposisi lahar hujan. Terbukti telah terjadi diposisi di setiap airan yang behulu dari gunung Merapi. Sementara itu yang berhulu dari non-Merapi tidak ditemukan diposisi separah yang terjadi dengan aliran sungai yang behulu Merapi. Sedimen yang teradi di sungai Progo sebelum pertemuan dengan anak sungai yang berhulu dari sungai Merapi umumnya ber tektur halus (debu/ lempung), yang diduga hasil erosi yang berasal dari hulu. Sedimen yang di jumpai relative sempit dan dampak terhadap lingkungan dan manusia sangat kecil. Sementara itu dari pengatan yang ada di sungai dari aliran Merapi terjadi penambahan sedimen yang signifikan dari sebelumnya. Sedimen yang ada sanagat luas dan tebal dan bertektur pasir kasar, kerikil, krakal hingga batuan, sendimen yang terjadi di sungai Progo mempunyai dampak besar terhadap lingkungan dan manusia. Dampak yang terjadi akibat diposisi lahar dingin di lembah sungai Progo setiap pertemuan sungai yang berhulu Merapi sebagi berikut:

1. Pertemuan aliran sungai krasak dan sungai progo. Di temukan sedimentasi di pinggiran sungai dengan luas ± 3.500 m2 dengan kedalam sekitar 10- 50 cm dan bertekstur pasir kasar, krikil, krakal sampai batuan besar andesit. Dampak negative sedimentasi terhadap lingkungan sosial adalah terjadi penimbunan sawah yang berada persis di pinggir sungai, sehingga sawah tidak begitu subur akibat dari timbunan pasir. Sedangkan dampak positifnya adalah berupa penambangan pasir yang dilakukan warga sekitar untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Sedangkan dampak sedimentasi terhadap lingkungan adalah terjadi longsor tebing yang terjadi disekitar pinggiran sungai sehinnga sungai menjadi tambah luas. Karena sedimen tersebut terjadi pendangkalan sungai yang disebabkan material yang diangkut begitu banyak maka sungai mengalami pendangkalan bahkan ada sedimentasi yang mengumpul membentuk sebuah pulau yang mampu memecah aliran sungai.

 2. Pertemuan sungai Blongkeng dan sungai Progo. Sedimentasi yang terjadi di sungai Blongkeng dengan luas ±4500 m2 yang bertekstur pasir kasar, krikil, krakal, sampai bebatuan dengan kedalaman 50-80 cm. Jenis batu yang ada di sungai pabelan adalah batu andesit. Sedimen yang terjadi hanya ada di pinggir sungai jadi tidak membelah aliran sungai. Dampak negative sendimen terhadap lingkungan sosial adalah terjadinya longsor tebing sungai yang menggerus sawah warga sekitar, sehingga sawah yang dimiliki warga menjadi lebih sempit, bahkan ada warga yang menanam padi di pinggiran sungai karena begitu luasnya erosi yang di akibatkan aliran sungai. Dampak sedimen terhadap lingkungan, terjadi lonsor di sekitar tebing sungai yang berakibat pelebaran sungai dan pendangkalan akibat dari material gunung merapi.

3. Pertemuan sungai pabelan dan sungai progo. Sedimentasi yang terjadi di sungai Pabelan dengan luas ±1000 m2 yang bertekstur pasir kasar,krikil, dan krakal yang terdapat di pinggir dan di tengah sungai pabelan dengan ketebalan 30-60 cm, bahkan sedimen di sungai pabelan memecah aliran sungai pabelan. Sedangkan bebatuan besar ada di tengah- tengah kali Progo yang mampu memecah aliran sungai. Jenis batu yang ada di sungai pabelan adalah batu andesit. Dampak lingkungan sosial yang terjadi tidak ditemukan karena aliran sungai tidak berdampak langsung terhadap masyarakat sekitar. Warga sekitar memanfaatkan aliran sungai hanya sebagai tempat memancing. Longsor yang terjadi sangat kecil karena sangat luasnya sungai dan sedikitnya tebing sungai yang ada di sungai progo.

Dampak lain akibat diposisi lembah sungai progo dijumpai di bendungan ancol. Bendungan Ancol merupakan bendungan yang mengalirkan air ke selokan mataram. Dari diposisi lahar hujan sangat mengganggu aliran air irigasi, sedimen membuat saluran menjadi mampet sehingga pemerintah harus melakukan penggerukan pasir setiap harinya. Cara penangulanganya, pemeritah membuat keputusan bahwa warga di ijinkan untuk menambang pasir disekitar bendugan ancol karena pemerintah kekurangan dana. Sehingga terjadi hubungan timbal balik yang menguntungkan antara pemerintah dengan masyarakat sekitar.

by : tim ekspedisi MPA MAHAMERU FIS UNY

Friday, January 14, 2011

MPA MAHAMERU GUNUNGSEWU KARST EXPEDITION 2011





Untuk memperingati ulang tahun ke-6, MPA MAHAMERU FISE Universitas Negeri Yogyakarta mengadakan serangkaian kegiatan. salah satunya adalah kegiatan akademik berupa Ekspedisi Karst di GunungSewu tepatnya di Kabupaten Gunung Kidul.
Kegiatan Ekspedisi Karst di selenggarakan selama satu hari yaitu pada hari sabtu tanggal 26 Februari 2011. Ekspedisi Karst ini bertema "GEOMORPHOLOGY, HYDROGEOLOGY, and SOCIAL PHENOMENA". tujuannya adalah mengenalkan kepada mahasiswa bagaimana kondisi kawasan karst dari 3 disiplin ilmu yaitu fenomena Geomorpologi,Hidrogeologi dan Sosial.
Ekspedisi Karst GunungSewu mengundang 2 pembicara dan sekaligus instruktur lapangan, Drs. Heru Pramono, S.U merupakan dosen Jurusan Pendidikan Geografi UNY dan peneliti muda Arif Ashari, S.Pd., M.Sc. yang akan memandu selama jalannya kegiatan.
Untuk pendaftaran Ekspedisi Karst dibuka dimulai dari tanggal 12 Januari-15 Februari 2011. Melalui sekretarian MPA MAHAMERU. Kuota peserta hanya di batasi 50 orang. Rute Ekspedisi Karst GunungSewu akan melalui beberapa tempat persinggahan yaitu, Beton Karst Spring-Goa Lawa-Dolin Lawa-Bedoyo KegelKarst-Baron.
Beberapa fasilitas yang akan di dapat peserta antara lain, transport Bus UNY, Sertifikat, Modul Fieldtrip guide, Sticker, Dokumentasi, Snack, After Lauch, PPPK.

Contact Person
ANGGITA PERTAMAX (08184321428)
TOFFAN TAMBORA (081809762666)

Tuesday, October 12, 2010

Agar Tidak Tersesat


ANDA TERSESAT..?

Selama dalam pendakian, ada baiknya memperhatikan keadaan alam sekitar yang bisa dijadikan tanda yang tidak mudah dilupakan, seperti tumpukan batu raksasa, pohon besar dan tinggi, pohon tumbang, dan aliran sungai. Tanda-tanda alam tersebut bisa digunakan sebagai rambu pemandu kejalur semula bila kebetulan tersesat. Bila berada pada suatu ketinggian, tiba-tiba mendengar suara musik, suara azan, suara deru motor, atau melihat cahaya lampu yang seolah-olah jaraknya tidak jauh, apalagi pada malam hari, sebenarnya kondisi seperti itu hanya tipuan pada pendengaran dan penglihatan, ketika kondisi fisik sudah melemah dan mental menurun. Oleh karena itu, timbul keinginan untuk secepatnya menuju kearah datangnya suara atau sinar tadi. Tanpa disadari kita sudah keluar dari jalur yang mengakibatkan terjebak pada situasi medan yang menyesatkan. Jangan coba-coba melakukan jalan pintas atau potong kompas kalau tidak tahu tehniknya, apalagi bila tidak membawa peta dan kompas.

Perjalanan yang menyesatkan bisa juga karena mengikuti aliran sungai. Memang betul aliran sungai dari gunung aka mengalir kedataran rendah, mungkin juga melintasi sebuah perkampungan penduduk. Tapi harus diingat bahwa aliran sungai umumnya memiliki jeram atau air terjun yang dapat menyulitakan bahkan menyesatkan.

Bila kita sudah menyadari telah salah jalur atau tersesat, yang pertama harus kita lakukan adalah jangan panik!! lebih baik berhenti dan istirahat dulu (minum air, makan sepotong coklat) Sambil memberi tanda lokasi istirahat dengan tanda yang mencolok/mudah diingat, seperti: mengikat batang/ranting perdu, mematahkan beberapa ranting pohon/perdu, mengikat serumpun alang-alang, dan lakukan pengamatan medan sekitar.

Dari lokasi istirahat yang telah diberi tanda jejak tadi, cobalah berjalan kearah empat penjuru mata angin selama 15-20 menit. Bila belum ditemukan jalur resmi pada satu arah mata aingin setelah berjalan 15-20 menit, berilah tanda jejak pada lokasi tersebut. Kemudian kembali kelokasi semula yang telah diberi tanda jejak (lokasi istirahat). Demikian selanjutnya, pada arah mata angin yang lain bila jalur resmi belum ditemukan. Jarak dan waktu tempuh mencari jalur resmi bisa diperpanjang asalkan tidak lupa memberikan tanda-tanda jejak pada kawasan yang pernah dilewati. Bila tidak cukup waktu atau hari sudah menjelang sore, sebaiknya mulai mendirikan tenda kalau tidak ada dirikanlah shelter alam (bivak), jangan memaksakan diri melakukan pencarian jalur resmi dimalam hari, lebih baik digunakan untuk istirahat dan menambah kalori dengan makan dan minum. Baru keesokan harinya bisa dilanjutkan pencarian jalurnya.

Terkadang ada jalur yang tertutup semak belukar, alang-alang, dan pohon tumbang, karena jarang dilewati pendaki. Bila pencarian jalur resmi dilakukan dengan sabar dan tidak panik, percaya diri serta kal sehat, cepat atau lambat akan dapat ditemukan.

Kalau tersesatsebaiknya kita tenang dan ingat rumus : STOP

S = Stop/Seating:Berhentilah dan beristirahat dengan santai, dan berusahalah untuk tidak panik, segera hilangkan kepanikan (kalau emang sudah panik). Kalo perlu makan coklat dulu biar tenang......

T = Thinking:Berpikir secara jernih (logik) dalam situasi yang sedang dihadapi.

O = Observation:Lakukan pengamatan/observasi medan disekitar kita, kemudian tentukan arah dan tanda-tanda alam yang dapat kita mamfaatkan atau yang harus kita hindari.

P = Planning:Buat rencana dan pikirkan konsekuensinya bila kita sudah memutuskan sesuatu yang akan kita lakukan.

Kode Etik Pencinta Alam


Kode etik pecinta alam Indonesia dicetuskan dalam kegiatan Gladian Nasional Pecinta Alam IV yang dilaksanakan di Pulau Kahyangan dan Tana Toraja pada bulan Januari 1974. Gladian yang diselenggarakan oleh Badan Kerja sama Club Antarmaja pencinta Alam se-Ujung Pandang ini diikuti oleh 44 perhimpunan pecinta alam se Indonesia.

Kode etik pecinta alam Indonesia ini, sampai saat ini masih dipergunakan oleh berbagai perkumpulan pecinta alam di seluruh Indonesia.

Bunyi dari kode etik pecinta alam Indonesia adalah sebagai berikut:

Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa alam beserta isinya adalah
ciptaan Tuhan Yang Maha Esa

Pecinta Alam Indonesia adalah bagian dari masyarakat
Indonesia sadar akan tanggung jawab kepada Tuhan, bangsa, dan
tanah air

Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa pecinta alam adalah sebagian
dari makhluk yang mencintai alam sebagai anugerah yang Mahakuasa

Sesuai dengan hakekat di atas, kami dengan kesadaran
menyatakan :

Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa
Memelihara alam beserta isinya serta menggunakan sumber alam
sesuai dengan kebutuhannya
Mengabdi kepada bangsa dan tanah air
Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat
sekitar serta menghargai manusia dan kerabatnya
Berusaha mempererat tali persaudaraan antara pecinta alam
sesuai dengan azas pecinta alam
Berusaha saling membantu serta menghargai dalam pelaksanaan
pengabdian terhadap Tuhan, bangsa dan tanah air
Selesai
Disyahkan bersama dalam
Gladian Nasional ke-4
Ujung Pandang, 1974

Saturday, October 9, 2010

Mendaki Gunung

Pecinta Alam memang belum bisa dikatakan sepenuhnya sebagai akar gerakan lingkungan, akan tetapi setidaknya pecinta alam mempunyai sumbangsih dengan caranya sendiri. Seperti kata Soe Hok Gie, “Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai Tanah Air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Karena itulah kami naik gunung.”

Banyak diantara beberapa kalangan menilai, semakin menjamurnya kelompok-kelompok pecinta alam yang ada tidak membuat kerusakan lingkungan menjadi berkurang, malah bertambah akhir-akhir ini. Kegiatan Pecinta Alam tidak lain hanya mendaki gunung, dan merusak hutan.

Pecinta Alam mungkin memang tidak bisa dipisahkan dengan kepetualangan dan mendaki gunung. Akan tetapi pecinta alam mempunyai aturan, pecinta alam mempunyai etika. Justru melalui kelompok-kelompok pecinta alam inilah, para petualang dididik, dan ditempa dan menjadi sadar akan peranan alam dalam menopang kehidupan di bumi ini.

Dengan keberadaan kelompok-kelompok pecinta alam di dunia akademisi, seperti kampus, akan menciptakan sosok-sosok ilmuwan yang sadar akan lingkungan. Mahasiswa tidak hanya pandai berbicara, tidak hanya pandai membaca buku, tidak hanya pandai mengkritik. Melalui Pecinta Alam dan mendaki gunung, mahasiswa diajarkan untuk “membumi” dengan lingkungan dan masyarakat Indonesia. Menjelaskan bahwa mahasiswa tidak hanya hidup di dunia akademisi yang dipenuhi rumus-rumus kimia karbon, atau seabrek jurnal-jurnal ilmiah yang terus menerus diseminarkan. Akan tetapi mahasiswa juga hidup dalam sebuah dunia yang semakin terancam karena global warming dan illegalloging, misalnya.

Selain itu, melalui mendaki gunung, kita dilatih menjadi seorang yang berdisiplin, dan memiliki SDM yang berkualitas. Bagaimana tidak, dalam mendaki gunung kita harus pandai dalam memanajemen logistik yang dibawa. Membawa terlalu banyak perlengkapan akan menyusahkan pendakian, sebaliknya membawa terlalu sedikit, akan membahayakan nyawa kita. Mendaki gunung dapat pula melatih kita untuk tidak mudah putus asa. Beratnya jalur yang selalu menanjak dan barang bawaan di punggung akan terbayarkan dengan indahnya pemandangan di puncak. Mengajarkan kepada kita, setiap perjuangan yang sungguh-sungguh akan melahirkan hasil yang memuaskan. Yang tidak kalah penting, adalah dibekalinya para pecinta alam dengan pengetahuan SAR yang mengajarkan kita untuk saling membantu jika terkena musibah.

Akhirnya, Melalui Pecinta alam, kegiatan mendaki gunung tidak sekedar mendaki, akan tetapi mengajarkan kita untuk berdisiplin diri, menghargai alam, dan teman seperjalanan.

sumber: klik disini